Pages

Selasa, 27 Desember 2016

Anak

Abqary Rafasya Amrullah. Biasa dipanggil Rafa. Dia adalah anak pertama kami. Alhamdulillah ya ... ^_^

39week 4days, ketika itu hari Jumat tanggal 28 Oktober 2016 pukul 18.30 WIB air ketubanku pecah. Mengalir deras hingga banjir di lantai. Segera kedua orangtuaku siap-siap menuju rumah sakit terdekat. Aku malah bengong. Bingung mau ngapain. Aku dan ibu naik becak, sedangkan bapak naik motor di belakang mengikuti laju becak. Meskipun sudah pecah ketuban, namun belum ada rasa mules. Nah, itu yang bikin deg-degan. Jangan-jangan...

Induksi
Yup, aku harus diinduksi karena setelah delapan jam pecah ketuban baru pembukaan satu. Akhirnya, hari Sabtu, 29 Oktober 2016, pukul 06.30 WIB atau 2,5 jam setelah dokter meng-acc harus diinduksi, bidan memasang infus yang sudah disuntik obat pemacu. Kalau nama obatnya mah aku gak tau. Subhanalloh rasanya. Pengin kabur terus dari tempat tidur. Mantab banget dah. Malah, sampai keceplosan minta SC. 

Dia Lahir 29 Oktober 2016
Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh yang telah menganugerahi kami seorang putra dengan berat 3,4kg dan panjang 51cm. Dengan panggul sekecil ini???? Allohuakbar. Flashback. Pukul 09.15 mulai proses melahirkan. 45 menit kemudian si jabang bayi lahir disertai tangisan pertamanya. Suami yang berada di sampingku mulai dari akan diinduksi hingga debay lahir, tak kuasa menahan tangis harunya. Beliau memelukku. Aku diam saja, tak membalas pelukannya karena fokus ke jalan lahir yang ternyata dijahit obras. 15 jahitan dalam dan 5 jahitan luar. 

IMD
Persis setelah bayi lahir, bidan menaruhnya di atas dadaku. Tujuannya adalah agar si bayi mencari puting ibunya. Nah, inilah yang disebut dengan inisiasi menyusu dini atau IMD. Sensasi itu... sensasi memeluk anak sendiri untuk pertama kalinya di seumur hidupku...rasanya gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Masya Alloh.

Jadi Orangtua
Aku dan Mas Haris kini bukan lagi pasutri yang bisa we time atau mengerjakan tugas rumah sekehendak hati. hehe. Why? udah ada si dede yang bisa bangun dari tidurnya, minta mimi, pipis, BAB, dan rewel sewaktu-waktu. Jadi, jika ada kesempatan kami berusaha mempergunakan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya. Menjadi orangtua, ternyata belum bisa melenyapkan beberapa sifat burukku. Ya memang, ketika bersama anak, aku akan menjadi ibu seperti ibu-ibu pada umumnya (orla yang bisa nilai sih) sedangkan ketika bersama suami, aku akan menjadi istrinya yang suka ngambekkan. Maaf ya Mas.. kayaknya ini susah dihilangkan. Oya, aku harap kita bisa menjadi orangtua yang baik untuk Rafa. Aamiin... Aku sayang Mas Haris dan Rafa... 

By Ibu Osy

Senin, 17 Oktober 2016

Aneh

37 week lebih 3days. Insya Alloh partus tanggal 21 Oktober 2016. Tinggal menghitung hari. Eh, biar terkesan lama, menghitung jam aja deh. Bukannya takut sakit, tapi merasa masih ada yang kurang. Belum persiapan ini itu. padahal, setelah dicek and ricek insya Alloh udah cukup tetek bengeknya. misal ada yang terlupa, bisa disiapkan ketika lahir. yang penting selama pasca melahirkan, suami masih ada di sebelahku.

Persiapan Nama
Sampai saat ini sih suami masih dalam tahap merangkai nama. Beliau tertariknya sama nama jawa. Misal: Lare Gedhe Rejeki (asal tulis). Yang begitu-begitu itu modelnya. Aku mah suka yang "kekinian" hehehe. Biar kaya teman-temannya.

LDR
Hubungan jarak jauh dimulai sejak tanggal 13 September-14 Oktober 2016. Lalu, tanggal 15-16 Oktober kemarin suami pulang. Kurleb 34 jam kami bertemu. Lumayanlah. Setidaknya bisa sedikit mengobati rindu. Selain ingin segera bertatap langsung dengannya, aku juga sedang menantikan sesuatu yang menurutku sangat berharga. Surat Cinta. Aku memang sempat ngambek karena tidak dibuat-buatkan surat cinta setelah berkali-kali meminta padanya. Sama sekali tidak meragukan perasaan suami padaku. Hanya ingin merasakan bagaimana rasanya diberi surat cinta. Itu Saja. Mungkin ini sesuatu yang simple. Tapi bagiku, itu justru sangat spesial. Apalagi dari orang yang saling mencintai.

1,5 Tahun Pernikahan
Tepat tanggal 6 Oktober 2016 1,5 tahun pernikahan kami. Tiba-tiba flashback ke peristiwa ketika kami bertemu pertama kalinya. Waktu itu, beliau datang mengenakan kaos warna darkblue gambar kamera. kami ngobrol kira-kira mulai pukul 13.10-15.15 WIB. Selama 2 jam ngobrol ngalor ngidul, dimana pembicaraan itu sebenarnya sangat umum dan membosankan. Tapi karna baru bertemu, cerita apapun tetap menarik. 9,5 bulan masa perkenalan, Alhamdulillah Alloh mengijinkan kami sampai ke tahap pernikahan. Dan sebentar lagi, Insya Alloh lahir buah cinta kami.

Cinta
Aku mencintainya. Perasaan itu muncul tanpa disadari. Bahkan tak terlintas dipikiranku, apakah aku mencintainya. Biasa saja. Lalu, persis 1 hari setelah akad nikah terucap, suami bercerita tentang masa lalunya. Dulu, Beliau pernah mencintai seseorang. Malah sudah membicarakan pernikahan. Here we go, waktu itu suami masih kuliah di Surabaya dan bersedia menenuinya di Jakarta hanya untuk mengatakan "tunggu aku kerja dulu ya?". Tapi sang wanita tidak ingin menunggu. Akhirnya dia menikah dengan pria lain. Sejak saat itu, suami tidak pernah "dekat" dengan wanita lain, selain dikenalkan. Termasuk aku. Entah mengapa, aku merasakan angin cemburu ketika suami bercerita tentang masa lalunya dengan wanita itu. Tapi masih level biasa. Ups...ahaha...aku mencintainya. Ya, begitulah perasaan "ajaib" datang. Meskipun kami sudah menikah, tapi bagiku beliau adalah orang asing yang hadir dalam kehidupanku. Karna selama masa perkenalan, hanya bertemu kurleb 15 kali dan komunikasi intens ya via WA. Telepon paling sebulan sekali kalau dirata-rata. Menyentuhnya saja perlu mengumpulkan keberanian, apalagi bertanya "apa kamu mencintaiku mas?'. Ah, sepertinya sangat belum mungkin kulakukan. Dan semua itu terjadi hampir 0,5 tahun pernikahan. Hari ini, seolah-olah aku sedang merasakan suasana pertama kali aku jatuh cinta padanya. Ingin bertanya, apa kamu mencintaiku?. Eh... belum sempet tanya, tiba-tiba ada WA masuk darinya. LOVE YOU... cuma itu...singkat, padat, jelas. hehehe


Selasa, 14 Juni 2016

Hamil Anak Pertama

Memasuki usia kehamilan 5 bulan, alhamdulillah sudah bisa masak dan makan apapun kecuali segala macam jenis mie. Bahkan, sejak belum teridentifikasi hamil sampai saat ini masih mual kalau liat bungkus, iklan dan aromanya. Padahal sebelum hamil, ya ampuuunnn... lumayan sering makan mie instant. Pokoknya setahun maksimal makan 12 bungkus. Misal bulan ini gak makan mie, maka bulan depan bisa ambil jatah bulan lalu. Jadi, makan mie instant 2 kali dalam sebulan deh. Diakumulasi gitu...hehehe...itupun belum termasuk mie ayam dan bakso ...

Hari ini masak tumis jamur mixed wortel dan buncis. Request suami sebenarnya. Katanya, tumis jamurku rasa ayam... padahal gak ada daging ayam secuilpun apalagi kaldu instant. Kami memang menghindari bumbu masak yang ber-MSG. Pernah suatu saat goreng tempe pakai bumbu yang ada MSG-nya, lalu kuberikan sepeotong tempe (fresh from the pan) ke kucing kost... Ajaib, kucing enggak doyan meskipun tempenya udah dingin.

Hamil anak pertama, entah kenapa gak terlalu suka hewani, mayoritas nabati. Tapi suami, kadang suka maksa agar aku mau makan daging. Oya, waktu itu kontrol ke bidan di Puskemas Kelurahan, lalu dikasih resep suplemen. Pas ditukar di apotek, kok ada suplemen penambah darah. Lantas suami berkata, makanya makan daging jadi gak sampai anemia. Ngisin-isini (batin suami). Ya sih, aku juga harus memikirkan janin yang sangat memerlukan nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Cuma mau bagaimana lagi, namanya nyidam.... akhirnya setiap dibelikan daging, diam-diam aku kasih ke kucing kost sebagian. Pantes, kucing kost makin gemuk aja akhir-akhir ini. Wong makanane rendang...

Aku sangat bersyukur, Alloh SWT menganugerahiku momongan (calon momongan) setelah 10 bulan menikah. Terlebih suami yang pernah mengurung diri selama beberapa hari..dan ketika kutanya, ternyata beliau ingin punya anak. Mendengar itu, perasaanku sebenarnya agak kacau. Lalu, tiba-tiba sederet kata-kata bijak keluar. Kehadiran anak adalah kehendak Alloh, dan saat ini Alloh belum mempercayakan kita untuk memilikinya Mas. Mengandung adalah impian setiap wanita yang sudah menikah. Tapi mau bagaimna lagi, hanya tawakal yang bisa dilakukan setelah doa dan usaha. Aku berkata begitu sambil ngempet ingin nangis. Akhirnya suami mengerti dan kembali ceria... Alhamdulillah..

Setelah benar-benar positif hamil, suami jadi gemanaaaa gitu... Apa-apa dituruti. Waktu belum hamil emang sering nurutin apapun yang kuinginkan...tapi pas hamil, semakin deh... Aji mumpung (bercanda). Yang pasti tidak ingin hal negatif terjadi sehingga memepengaruhi kandungan. Oya, Entah gawan bayi atau apa, selama hamil maunya kok nempeeel terus sama suami. Mungkin nanti-nantinya si anak bakal lengket sama bapaknya. Sekarang, kami sudah mulai mengajak janin bicara dan semakin sering ngelus-elus perut. Berharap ada respound dari si janin. aku merasa, janin udah aktif banget. Perutku kaya ditendang-tendang gitu. Sayang, bapaknya belum pernah ngrasain tendangnnya yang kadang kenceng banget sampai aku kaget.

Sekian dulu cerita dari bumil... nasi sudah matang... mau makan dulu... Lagi gak puasa... akibat diare... hikz...see ya...

Senin, 18 Januari 2016

LDR (sementara= sorry lama-lama)

Memasak, besrsih-bersih, jalan-jalan, nonton film, makan-makan, ngobrol ngalor ngidul, tertawa, dan menangis bersama. Semua telah kami jalani dalam kurun waktu kurang lebih setengah tahun. Dan kini saatnya merasakan sepi serta dinginnya angin malam kembali. Memilih LDR disaat paranoid dengan kata-kata itu, menjadi tantangan untukkku. Mungkin juga untuk suamiku yang basically terbiasa sendiri...hehehehe...
Insya Alloh ini menjadi jalan terbaik sementara untuk kami. Karena aku gak ingin terlalu lama berpisah. Ya memang sih hidup di desa menjadi impianku setelah setengah tahun berada di ibukota dengan demografi penduduknya yang padat banget. Sampai-sampai motorpun naik ke trotoar. Why ever? Tiap kali lampu merah barisan kendaraan bisa mencapai 1km lebih. Saking gak sabar atau terburu-burunya para pengendara jalan nekat naik trotoar. Alhasil tingkat safety trotoar gak terjamin lagi deh (sebenernya emang gak 100% menjamin juga sih. Maut selalu mengintai kapanpun dan dimanapun berada). 
Untuknya yang selalu dan sangat aku cintai plus sayangi, Semoga dikau bisa bertahan jauh dariku (sementara waktu). Suatu saat nanti jika keadaan sudah memungkinkan kita pasti akan bersama lagi. Oya, selama kita LDR aku selalu menanti surat cinta darimu yang sampai detik ini masih menjadi harapan.
Terimakasih atas segala kesabaranmu menghadapiku. Meski gak bisa juga dikatakan jarang marah-marah padaku (hahahaha). Itulah persamaan kita. Gampang mutung tapi gampang sembuh (menurutku sih. Kecuali untuk hal yang sungguh terlalu). Dan hal yang tak pernah kulupakan adalah ketika dikau ikut menangis dikala aku menangis. Saat itu entah mengapa aku merasa dicintai (bikin nagih hahay). Aku percaya jarak bukanlah penghalang untuk kita. Kata kamu dengan LDR (sementara) akan membuat kita semakin kuat. So sweetttt... 
Hanya aku bukanlah sosok yang mudah digomablin. Semua tetap kembali pada realita. Merasa kesepian dan rindu tak berpenghujung tentu saja gak bisa dipungkiri. Apapun minumannya takkan bisa melepasdahagakan perasaan itu. Kadang aku menangis atas keadaan ini. Sama sekali tak pernah ada dalam kamus hidupku LDR pasca menikah. Ya Alloh... semoga aku kuat menjalaninya... Aku yakin sekali bahwa ini takkan berlangsung lama. 
Mas,aku kangen dengan hal-hal so sweet yang selalu kita lakukan setiap hari. Apa saja hal so sweet itu? biarlah hanya kami dan Alloh yang tahu...hehehe... Doaku selalu menyertaimu, Beb...